Wah dari judulnya lumayan terlihat seperti pertarungan tinju kelas berat yah. Oke gak apa-apa sambil ditemani kopi hangat saya akan mulai share seputar entrepreneur, employee dan freelancer, tiga hal yang sudah saya alami dan sedang menjalankan salah satunya. Yukkkk...

 

FREELANCER

Yup ini yang pertama saya bahas, karena profesi ini yang pertama kali saya geluti. Menjadi seorang freelancer sebenarnya banyak sekali keseruan yang saya alami kala itu. Bebas berkarya, tanpa aturan yang jadi menyenangkan ketika menjadi seorang freelancer tidur begituuuu sangat nyenyak. Mungkin terlena dengan ke “free” an itu sendiri. Sisi positif yang saya rasakan ketika menjadi seorang freelance, saya bisa bekerja dimana saja mau di rumah, di cafe, di gunung, atau di goa sekalipun ahh dimanapun asal saya nyaman dan seneng. Saya gak punya jam kerja, kerja kalau mau aja ya kalo gak mau ngapain kerja. Kadang menjadi freelance itu sangat menyenangkan ketika punya banyak waktu bisa mengerjakan apa saja. Tapi negatifnya, jujur membuat saya jadi egois, merasa diri paling benar dan bekerja semaunya, sulit menerima kritik kadang bisa merusak kontrol diri sehingga kita jadi lost priority. Bekerja sesuai mood dan bisa jadi menular ke hal-hal lain yang sifatnya melibatkan orang banyak.

Kadang menjadi freelance itu sangat menyenangkan ketika punya banyak waktu bisa mengerjakan apa saja. Tapi negatifnya, jujur membuat saya jadi egois, merasa diri paling benar dan bekerja semaunya, sulit menerima kritik kadang bisa merusak kontrol diri sehingga kita jadi lost priority.

Ketika jadi freelancer dulu, gajian jadi ga tetap, kadang miris sebulan itu bisa gajian bisa engga, tapi seringnya juga fantastis satu bulan gajian bisa untuk saving untuk tiga bulan kedepan. 

Muncul Konflik ketika menjadi freelancer tidak bisa menjabarkan apa itu visi hidup yang jelas, saat jadi freelancer rasanya ingin bisa melakukan banyak hal ingin bisa semua hal. Konflik lainnya juga lebih kepada pandangan orang lain tentang freelance, kadang dianggap pengangguran banyak acara.  Entah ini dirasakan oleh para freelancer yang lain atau tidak. Misalnya ketika reuni dengan teman-teman yang masing-masing memamerkan perusahaan dimana mereka bekerja, di bank ini di bank itu atau di PT ini di PT itu, sang freelancer cuma bisa tabah dan membanggakan diri sekali lagi dengan ke “free”annya dalam bekerja yang mungkin tidak dimiliki oleh orang-orang yang bekerja di perusahaan. 

 

EMPLOYE

Setelah merasa jengah dengan kebebasan yang seakan terlalu bebas, saya memasuki dunia employee atau perkaryawanan, dimana saya menjadi seorang karyawan desain. Minimal biar ijazah yang sejak empat tahun di perjuangkan bisa dipamerkan ke bos-bos disana. Merasakan rasanya membuat surat  lamaran kerja. Mulai melancarkan aksi pencitraan, memajangkan segudang prestasi didalam CV dan memamerkan karya terbaik di dalam portofolio. Kirim lamaran kesana sini dipanggil wawancara sana sini, tawar menawar gaji and finaly saya menclok disalah satu perusahaan swasta. Sebagai seorang fresh graduate tentu saja banyak sekali ide-ide yang ingin saya kembangkan di perusahaan tersebut, saya seperti anak bawang yang baru benar-benar mengenal dunia industri. Saat itu saya masih euforia dengan title sebagai seorang yang punya pekerjaan tetap, sangat bersemangat dan sangat berusaha memajukan perusahaan tersebut. Beberapa bulan awal terasa menyenangkan, punya temen baru, punya ilmu baru, naik gaji, naik jabatan semua hal bisa dipelajari disana. Tapi beberapa bulan kemudian banyak hal nyata yang saya alami sebagai seorang karyawan. Karyawan tak punya daya selain hanya menerima bantahan atas ide-ide yang mungkin brilian tapi tak sejalan dengan atasan. Karyawan hanya pion-pion industri yang sewaktu-waktu bisa di korbankan dan mati.

Karyawan tak punya daya selain hanya menerima bantahan atas ide-ide yang mungkin brilian tapi tak sejalan dengan atasan. Karyawan hanya pion-pion industri yang sewaktu-waktu bisa di korbankan dan mati.

Mindset saya berubah memang, dari freelancer yang asalnya bekerja semaunya jadi bekerja semuanya, yup semuanya sesuai aturan atasan. Saya memang punya jam kerja, punya timeline punya target, punya visi. Tapi itu target siapa dan visi siapa. Menerima keluhan – keluhan karyawan lain mulai dari dateng harus pagi kekantor, gaji kurang, sikap atasan, load pekerjaan ahh banyak lah. Semuanya jadi pamrih, dan secara tidak langsung hal tersebut menular pada nalar. Bekerja banyak tapi dapat sedikit. Ketika berada di zona nyaman karyawan, hidup terasa teratur, tidur cukup makan cukup, berat badan stabil, tapi saya merasa mimpi-mimpi saya mati.

Jadi mulai berfikir semuanya bukan yang saya inginkan, saya harus berpura-pura setuju dan menerima keputusan yang tidak sejalan dengan akal pikiran. Atau mungkin masalahnya ada pada diri sendiri juga, gak betah lama-lama diatur, terlalu insistif atau mungkin terlalu banyak mimpi. Tapi balik lagi semua ketidaknyamanan yang dirasakan ada pada faktor budaya yang diciptakan, bisa budaya perusahaannya yang salah, atau saya yang tidak dapat sync dengan budaya perusahaan tersebut yang mungkin sudah benar.  Dan perjalanan  sebagai karyawan saya hentikan setelah 11 bulan bekerja.

 

ENTREPRENEUR

Tibalah saya di perjalanan sebagai entreperneur yang saya rasakan inilah passion saya selama ini. Disini saya benar-benar merasakan pentingnya sebuah visi yang tentu saja gak muluk muluk, visi yang benar-benar yang harus dipegang teguh dan harus direalisasikan. Saya bisa menguntai mimpi-mimpi kecil untuk bisa menjadi besar. Jiwa wild saya muncul untuk ide-ide baru untuk segera dikembangkan, ketika tantangan demi tantangan mulai berdatangan untuk seorang entrepreneur, saya tak lagi memikirkan diri sendiri tapi harus juga memikirkan kelangsungan perusahaan, manajemen, team work, cashflow, dan terus mengembangkan diri. Bagaimana mix and match antara skill satu tim dengan tim lain, bagaimana membuat perencanaan untuk satu tahun, lima tahun bakan 100 tahun mendatang (hahaha). Pengorbanan, semangat, disiplin, inisiatif, manajemen semua hal harus saya pelajari. Ketika seorang employee diatur, dan freelancer gak mau diatur, seorang entreperneur harus bisa mengatur harus jadi strong leadership punya jiwa kepemimpinan yang kuat dapat memberikan contoh yang baik ke orang lain, kemudian kita dapat menginfluence serta memotivasi orang lain tersebut, mampu mengambil keputusan dan mengambil resiko selain itu juga harus bisa solve the problem agar tidak merugikan banyak pihak. 

Ketika seorang employe diatur, dan freelancer gak mau diatur, seorang entreperneur harus bisa mengatur harus jadi strong leadership punya jiwa kepemimpinan yang kuat dapat memberikan contoh yang baik ke orang lain, kemudian kita dapat menginfluence serta memotivasi orang lain tersebut, mampu mengambil keputusan dan mengambil resiko selain itu juga harus bisa solve the problem agar tidak merugikan banyak pihak.

Seorang entrepreneur harus bisa memimpin dirinya sendiri sebelum dia memimpin orang lain. Seorang entrepreneur harus punya ide-ide yang kreatif dan inovatif yang bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk kelangsungan orang banyak. Nah yang terakhir adalah seorang entrepreneur harus bisa menjadi agent of change. Apa maksudnya? Maksudnya adalah seseorang harus bisa memberikan perubahan yang lebih baik kepada lingkungan di sekitarnya. Jadi seorang entrepreneur punya kebebasan untuk mengejar semangat dan cita-cita. Dan serunya jadi seorang entepreneur itu bisa menciptakan Mimpi, Budaya dan Aturan sendiri. Tapi ya itu tadi karena harus berani megambil resiko, dan punya keiginan besar untuk akselerasi mencapai mimpi, seorang entrepreneur harus berjuang keras, rela waktu tidur berkurang banyak, dan gak punya hari libur, harus inisiatif dan yang paling penting harus disiplin.  

Dan serunya jadi seorang entepreneur itu bisa menciptakan Mimpi, Budaya dan Aturan sendiri. Tapi ya itu tadi karena harus berani megambil resiko, dan punya keiginan besar untuk akselerasi mencapai mimpi, seorang entrepreneur harus berjuang keras, rela waktu tidur berkurang banyak, dan gak punya hari libur, harus inisiatif dan yang paling penting harus disiplin.  

Mungkin ini hanya cara pandang saya dengan pengalaman yang sudah saya alami sendiri, saya tidak menjudge salah satu profesi disini. Semua orang bisa melakukan hal terbaik di bidangnya mau dia jadi freelancer, employee, atau entrepreneur sekalipun. Jadi freelancer yang punya visi besar dan misi unik untuk mewujudkannya, punya target dan prioritas hidup dan bisa menahan ego bisa jadi pilihan yang ciamik , atau jadi employee yang loyal, penuh semangat gak banyak ngeluh yang akhirnya bisa naik pangkat dan punya uang banyak juga asik, atau jadi entrepreneur yang easy going, membuat budaya perusahaan yang seru yang bisa memotivasi tim dan karyawannya  jadi lebih baik dan bonusnya punya omset besar biar bisa mensejahterakan banyak orang juga mulia banget yah.

Jadi apapun kamu, yang terpenting itu harus berbagi apapun dan selalu bersyukur, sedikit quote boleh lah ya.

One tree many leaf, when you help other you help your life.

 

- Dila Fatmala