Tulisan ini terinspirasi dari sebuah bunga yang sudah saya kagumi sedari bangku Sekolah Dasar. Yup Dandelion bentuknya seperti ilustrasi yang saya buat diatas. Dandelion tumbuh dengan sederhana, tak semenawan mawar, dan tak seharum melati, kadang keberadaannya terhalangi ilalang dan rumput liar. Terlihat rapuh dengan tangkai kecil dan kelopak yang siap meluruh pergi lebih jauh, hinggap lebih jauh, sungguh jauh dari tempat awal ia berasal. 

Takdir yang selalu merenggut kebersamaannya dengan kelopak lain karena tak punya pilihan selain pasrah berpisah, lewat tiupan angin yang entah kemana mengarah. 

Tapi dandelion tidak layu justru dia tumbuh dan membuat kehidupan baru. Membuat koloni semangat untuk impian baru selanjutnya. Dan pada akhirnya akan kembali ketempat yang sama untuk menguntai rindu masalalu.

Sebuah pelajaran berharga dari bunga yang tak dihiraukan keberadannya. Tentang arti hidup yang butuh keberanian besar untuk menerimanya dengan semangat berkobar untuk menghadapinya.

Terbang bersama dandelion, dengan setiap kejutannya membawa asa entah kemana. Bersama harapan, terbang dan terayun menuju arah takdir yang tak pernah bisa dijangkau dengan logika. Meski hati meresah dan harap tak kunjung usai, yakinlah harapan, impian, dimanapun itu, ia akan tumbuh dan berbunga pada waktu yang ditetapkan.

Tak perlu menunggu sempurna, untuk memberi makna, cukup jadi diri kamu apa adanya. Sederhana tapi mampu melukis tawa, terlihat biasa tapi mampu mengobati luka, tak dihiraukan keberadaannya tapi mampu mengubah dunia. ~df

Teruslah bermimpi, dan jangan takut menggantungkan harapan sekalipun pada kelopak dandelion yang mudah meluruh, karena dibalik kerapuhannya kita tak pernah tahu bahwa akan ada angin  yang mengantarkannya ke setiap sudut sudut takdir persinggahan yang tak pernah terbayangkan.

Dila Fatmala