"Multitasking" sebuah istilah yang biasa kita temukan di dalam perangkat komputer, yaitu ketika komputer melakukan pekerjaan yang berbeda secara realtime dan bersamaan dalam satu perangkat, beberapa program dapat berjalan pada saat yang bersamaan identik dengan multiprogramming. Namun kemampuan ini nampaknya banyak dilakukan oleh beberapa orang  untuk memperoleh hasil kerja yang maksimal dalam tempo singkat.  Apalagi di era digital seperti sekarang ini, kecanggihan teknologi komunikasi makin mempermudah kita mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu rentang waktu. Ketika jalanan macet atau bahkan saat meeting, kita bisa sambil mengecek email, menelepon klien, mendengarkan musik, meng-update status facebook, dan lain-lain. Kepala kita seolah terus dipacu untuk selalu sibuk nonstop 24 jam sehari. Tapi taukah, bahwa ternyata multitasking itu berbahaya?

 

1. Merusak Kinerja Otak

Saya pribadi adalah orang yang hampir setiap hari melakukan multitasking, menggabungkan satu pekerjaan sekaligus, menganggkat telepon sambil mengkonsep karya,  menghitung laporan keuangan sambil mendengarkan musik kadang sesekali sambil membalas sms dan mengecek email, dan saya lakukan terus berulang-ulang setiap hari.  Awalnya saya merasa nyaman sekaligus puas karena bisa mengerjakan banyak hal sekaligus dalam satu waktu, pekerjaan jadi cepat selesai dan sisa waktu bisa saya gunakan untuk mengerjakan hal lain, walaupun seringkali saya merasakan sakit kepala hebat disela-sela aktifitas. Awalnya saya mengganggap itu adalah hal biasa, tapi ternyata ada fakta yang membuktikan bahwa kemampuan multitasking ini menyebabkan penurunan kinerja otak. 

Dr. David Meyer, profesor psikologi dari University of Michigan, mengatakan bahwa semakin kompleks kegiatan seseorang, semakin banyak pula waktu yang ia butuhkan. Sehingga ketika mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, seseorang tidak dapat menyelesaikannya dengan optimal. 

 

 

Otak manusia pada dasarnya tidak didesain untuk melakukan multitasking. Kalau pun kita mengerjakan dua hal sekaligus, seperti makan sambil membaca sms atau jalan sambil mengunyah permen, maka salah satunya dilakukan secara autopilot. Karena sudah menjadi kebiasaan, maka bisa dikerjakan tanpa memerlukan konsentrasi. Tetapi ketika kita harus mengerjakan dua tugas yang sama-sama membutuhkan konsentrasi penuh dan proses pengambilan keputusan, maka otak kita akan overload. Salah satu efek negatif dari multitasking adalah penurunan kemampuan memori – khususnya short term memory atau disebut ‘working memory’. Bagian otak inilah yang pertama kali mengolah informasi yang masuk untuk disimpan dalam ingatan. Bila kita sedang mengerjakan atau berpikir tentang beberapa hal dalam waktu bersamaan, maka bisa terjadi stimulasi berlebihan pada otak. Proses atensi pun akan berpindah-pindah. Akibatnya, otak tidak dapat memilah mana informasi penting dan tidak penting, sehingga Anda menjadi mudah lupa. Demikian hasil studi dari Clifford Nass, Ph.D. dari Stanford University (2009).  Karena penurunan fungsi otak tersebut, kita pun menjadi stres dan mudah tersulut emosi marah. Menurut Dr. Martina W. Nasrun, Sp.KJ(K), psikiater dari RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, jika multitasking ini terus dilakukan dalam kondisi stres, maka lama kelamaan sel otak pun menjadi rusak. Dan hal ini dapat mempercepat munculnya gejala Alzheimer.

You may feel like you're accomplising more, but really...

2. Mengikis Produktifitas

Banyak orang berfikir bahwa dengan melakukan multitasking, mereka seperti telah menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat dan mencapai lebih banyak, padahal justru multitasking benar-benar mengikis produktifitas itu sendiri. Hanya 2% saja yang bisa melakukan multitasking secara efektif dan 98% lainnya bisa membahayakan. 

David E Meyer, seorang cognitive scientist dan direktur The Brain, Cognition & Action Laboratory di Universitas Michigan mengatakan, multitasking akan memperlambat kita menyelesaikan pekerjaan, bahkan memperbesar kemungkinan kita melakukan kesalahan. Hal itu disebabkan karena gangguan dan interupsi yang menyertai pelaksanaan multitasking akan menghambat kemampuan kita mengolah informasi.

People who multitask feel like they're accomplishing more, but they're actually cutting down their own productivity.

 

3. Banyak Waktu Yang Terbuang Sia-Sia

Gerald Weinberg, pakar psikologi pengembangan software computer, melalui bukunya Quality Software Management: Systems Thinking menyimpulkan suatu hal menarik tentang multitasking. Menurutnya, ketika kita mengerjakan banyak projek pada waktu yang sama, maka akan muncul waste atau kemubaziran, setidaknya mubazir waktu. Weinberg menghitung, kalau kita mengerjakan projek kedua pada saat yang sama projek pertama dikerjakan, kita kehilangan waktu 20%. Ketika projek ketiga diambil, 50% waktu kita terbuang. Kehilangan waktu ini terjadi karena otak memerlukan waktu proses untuk bisa berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Temuan ini diperkuat oleh kajian lain yang dilakukan oleh Eric Horvitz dan The University of Illinois terhadap sekelompok programmer di Microsoft, mereka menemukan bahwa diperlukan waktu sekitar 15 menit untuk seorang pekerja kembali konsentrasi meneruskan pekerjaannya setelah merespon e-mail masuk atau sms.

Multitasking juga dipicu oleh teknologi. Teknologi memang di ciptakan untuk memudahkan manusia, tapi kemudahan itu justru bisa jadi hal yang membahayakan juga. 89% orang saat ini sudah menggunakan smartphone, dan nyatanya itulah yang memicu orang untuk melakukan multitasking. Para pekerja yang terbiasa menggunakan komputer untuk menyelesaikan pekerjaannya dan sudah terbiasa bekerja dengan sesekali mengecek smartphonenya akan mengalami kebingungan atau butuh waktu 10,5 menit untuk mengembalikan fokusnya untuk bekerja. hmm.. banyak waktu yang terbuang yah.

 

"Technology is encouraging more and more fruitless multitasking"

 

 

 

4. Tanpa Sadar, Anda Benar-Benar Tidak Pernah Bersantai

Memang tidak dapat dipungkiri, ketika menonton TV saja, rata-rata orang melakukan hal lain misalnya browsing di internet, atau membalas sms, berbicara di telepon. Hal yang serupa terjadi, ketika mungkin sedang berkencan, nonton di bioskop bahkan sedang beribadah saja kita masih sempat untuk membuka smartphone untuk sekedar mengecek email masuk. Hal tersebut tanpa sadar dilakukan terus berulang-ulang yang nyatanya membuat anda tidak pernah bersantai atau sekedar mengistirahatkan otak anda.

Even when people are relaxing, the urge to multitask takes over

 

 

Sebenarnya ada poin - poin positif yang sedikit harus dimodifikasi yang bisa kita gunakan dari kemampuan multitasking, misalnya manajemen waktu. Lebih baik kita segera menyelesaikan satu tugas, dibanding mengerjakan beberapa tugas secara bersamaan. Pilih salah satu pekerjaan yang lebih kamu sukai, selesaikan itu dengan baik dan maksimal dan dalam waktu yang singkat dilanjutkan dengan pekerjaan berikutnya.

"Multitasking confuses your brain and slows things down. Concentrating on one task at a time will get the job done much faster "

Yup, itu yang sedang saya coba lakukan untuk memperbaiki kinerja otak yang mungkin sudah rusak.   - Dila Fatmala